Asa Sore
Tak
ada yang berbeda dikala sore itu adzan magrib berkumandang, iqamah yang
menggema di masjid. Saat itu pula ia berjalan gontai dengan sekerenjang
bawaan.
Demi
keluarga, keringat peluh membasahi pipi, dengan niat dalam hati seorang
pedagang keripik yang sederhana, tapi tidak lepas dari sedekah yang terus
dilakukannya. Slogan yang terpampang nyata selalu menjadi pegangan hidupnya “siapa
dia yang membantu sesama untuk kesuksesan, maka dengan gencar pula
kesuksesannya akan mendatangimu.”
Giga
adalah seorang perempuan yang memiliki aktivitas menjual keripik untuk dijual
ke toko-toko terdekat rumahnya. Sebelum berangkat mengantarkan pesanan Giga
selalu mengambil dulu lima bungkus keripik untuk di berikan kepada tetangganya.
Dengan tujuan, membahagiakan tetangganya dahulu sebelum mencapai rezeki.
Memang
tidaklah mudah untuk memberikannya dia harus memiliki niat dan prinsip yang
kuat, tapi tak dipungkiri terlintas di benaknya “pastinya nanti labaku akan
berkurang jika lima bungkus ini aku berikan kepada mereka”. Namu dia sadar
semakin banyak dia memberi semakin banyak pula yang mendoakan kebaikan
untuknya.
Giga
merasa bahwa berbagi kepada orang lain bukanlah sebuah strategi bisnis,
melainnkan melatih hatinya agar menjadi pribadi yang lembut, sehingga merasa
dekat dengan Rabbnya.
Setiap
dia bertemu dengan orang minta-minta justru dia memberinya tanpa meminta
bayaran. Hal ini jarang dilakukan oleh orang lain. Yang secara tidak langsung
semua orang yang ditolongnya akan mendoakannya. Doa yang diberikan seorang yang
tulus karena lepas dari rasa lapar dan dahaga.
Subhanallah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar