Rabu, 21 November 2018

Asa Sore 


Tak ada yang berbeda dikala sore itu adzan magrib berkumandang, iqamah yang menggema di masjid. Saat itu pula ia berjalan gontai dengan sekerenjang bawaan.

Demi keluarga, keringat peluh membasahi pipi, dengan niat dalam hati seorang pedagang keripik yang sederhana, tapi tidak lepas dari sedekah yang terus dilakukannya. Slogan yang terpampang nyata selalu menjadi pegangan hidupnya “siapa dia yang membantu sesama untuk kesuksesan, maka dengan gencar pula kesuksesannya akan mendatangimu.”
Giga adalah seorang perempuan yang memiliki aktivitas menjual keripik untuk dijual ke toko-toko terdekat rumahnya. Sebelum berangkat mengantarkan pesanan Giga selalu mengambil dulu lima bungkus keripik untuk di berikan kepada tetangganya. Dengan tujuan, membahagiakan tetangganya dahulu sebelum mencapai rezeki.

Memang tidaklah mudah untuk memberikannya dia harus memiliki niat dan prinsip yang kuat, tapi tak dipungkiri terlintas di benaknya “pastinya nanti labaku akan berkurang jika lima bungkus ini aku berikan kepada mereka”. Namu dia sadar semakin banyak dia memberi semakin banyak pula yang mendoakan kebaikan untuknya.
Giga merasa bahwa berbagi kepada orang lain bukanlah sebuah strategi bisnis, melainnkan melatih hatinya agar menjadi pribadi yang lembut, sehingga merasa dekat dengan Rabbnya.
Setiap dia bertemu dengan orang minta-minta justru dia memberinya tanpa meminta bayaran. Hal ini jarang dilakukan oleh orang lain. Yang secara tidak langsung semua orang yang ditolongnya akan mendoakannya. Doa yang diberikan seorang yang tulus karena lepas dari rasa lapar dan dahaga.
Subhanallah!



Asa Sore  Tak ada yang berbeda dikala sore itu adzan magrib berkumandang, iqamah yang menggema di masjid. Saat itu pula ia berjalan g...